Rabu, 11 April 2018

Materi IPS Kelas 5: Peta Lingkungan Setempat

Pengertian Peta
       Peta adalah gambar sebagian atau keseluruhan permukaan bumi dengan perbandingan tertentu. Di kelas tiga kamu sudah belajar tentang  denah. Peta tak ubahnya seperti denah. Perbedaannya adalah peta  menggambarkan tempat yang lebih luas. Selain itu peta harus dibuat dengan  perbandingan tertentu. Perbandingan inilah yang disebut dengan skala.  Skala mempunyai arti perbandingan jarak pada peta dengan jarak  sebenarnya di permukaan bumi. Peta dibuat dengan skala tertentu supaya  dapat menggambarkan keadaan di permukaan bumi dengan ukuran yang tepat. Pada peta untuk menggambarkan obyek alam atau buatan yang  ada di permukaan bumi digunakan simbol, misalnya:       

Bagaimana peta dibuat?
       Pada jaman dahulu orang mengembara tanpa arah tujuan. Saat itu  manusia belum mengenal semua bagian bumi. Para ilmuwan mengembara  ke berbagai tempat. Mereka mencoba menggambar rute perjalanan  mereka menjadi peta sederhana. Ketika peralatan semakin canggih, para  ilmuwan bisa memotret bumi dari atas dengan mudah. Selain dengan  pesawat, satelit j uga bisa digunakan untuk memotret. Dari potret itu dibuatlah peta. Jalan, gang dan daerah kecil yang sulit tertangkap oleh  kamera dari pesawat terbang, dicatat dan diukur langsung oleh petugas langsung di lapangan.

       Permukaan bumi yang bulat bisa digambarkan di atas kertas yang datar. Untuk melakukannya diperlukan proyeksi, yaitu memperkirakan jarak, arah, dan bentuk. Dari semua cara tadi, akhirnya diperoleh sebuah peta yang lengkap. Ada nama jalan,sungai, gunung, termasuk juga ketinggian dan kedalaman suatu tempat.
     
Kumpulan peta yang dibukukan disebut Atlas. Ada pula peta yang dibuat di permukaan bulat yang disebut globe. Globe disebut juga dengan bola dunia.


Jenis Peta
      Peta ternyata sangat beragam. Berdasarkan kegunaannya peta dibedakan menjadi dua, yakni :
1. Peta Umum
       Peta umum disebut juga dengan Peta Topografi. Peta umum merupakan peta yang menggambarkan keadaan umum dari suatu wilayah. Keadaan umum yang digambarkan meliputi objek atau kenampakan alam dan buatan. Objek alam misalnya gunung, sungai, dataran rendah, dataran tinggi, dan laut. Objek buatan misalnya kota, jalan dan rel kereta api. Peta Indonesia yang sering dipajang di dinding kantor atau sekolah-sekolah merupakan contoh peta umum. Peta Indonesia pada contoh di atas juga termasuk peta umum. Peta umum biasa digunakanuntuk belajar di sekolah,
untuk kepentingan kantor dan wisata.

2. Peta Khusus
       Peta khusus merupakan peta yang menggambarkan data-data tertentu di suatu wilayah. Peta khusus disebut juga dengan Peta Tematik.

Contoh peta khusus adalah:
a. Peta Persebaran Fauna di Indonesia
b. Peta Hasil Tambang di Indonesia
c. Peta Cuaca di Indonesia.

Komponen Peta
        Peta memiliki kelengkapan penting agar mudah dibaca dan dipahami.  Kelengkapan tersebut dinamakan komponen peta. Komponen-komponen peta antara lain sebagai berikut:

1. Judul peta
        Judul peta merupakan identitas atau nama untuk menjelaskan isi atau  gambar peta. Judul peta biasanya terletak di bagian atas peta. Judul peta merupakan komponen yang penting. Biasanya sebelum memperhatikan  isi peta, pasti seseorang terlebih dahulu membaca judulnya.

2. Legenda
        Legenda merupakan keterangan yang berisi gambar-gambar atau  simbol-simbol beserta artiny. Legenda biasanya terletak di bagian pojok kiri bawah peta                             
3. Skala
      Skala merupakan perbandingan jarak antara dua titik pada peta dengan jarak sebenarnya di permukaan bumi. Misalnya skala 1 : 200.000. Skala ini artinya 1 cm jarak pada peta sama dengan 200.000 cm atau 2 km jarak sebenarnya.

4. Simbol
      Simbol merupakan lambang-lambang atau gambar yang menunjukkan obyek alam atau buatan. Simbol peta harus memenuhi tiga syarat yakni sederhana, mudah dimengerti, dan bersifat umum. Berikut ini adalah simbol-simbol yang biasa digunakan pada peta.

5. Mata angin
         Mata angin merupakan pedoman atau petunjuk arah mata angin. Mata angin pada peta biasanya berupa tanda panah yang menunjuk ke arah utara. Mata angin sangat penting keberadaanya supaya tidak terjadi kekeliruan arah.

6. Garis astronomis
         Garis astronomis merupakangaris khayal di atas permukaan bumi. Garis astronomis terdiri dari darigaris lintang dan garis bujur. Garis lintang merupakan garis dari timur ke barat sedangkan garis bujur merupakan garis dari utara ke selatan.

7. Garis tepi
         Garis tepi merupakan garis yang dibuat mengelilingi gambar peta untuk menunjukkan batas peta tersebut.

8. Tahun pembuatan peta
         Tahun pembuatan peta menunjukkan kapan peta tersebut dibuat. Dari tahun pembuatan kita dapat mengetahui peta tersebut masih sesuai atau tidak untuk digunakan saat ini.

9. Inset peta
      Inset peta merupakan gambar peta yang ingin diperjelas atau karena letaknya di luar garis batas peta. Inset peta digambar bila diperlukan. Inset peta disebut juga peta sisipan.

10. Tata warna
      Tata warna merupakan pewarnaan pada peta untuk membedakan obyek satu dengan yang lainnya. Misalnya warna coklat menunjukkan dataran tinggi, hijau menunjukkan dataran rendah dan biru untuk
menunjukkan wilayah perairan.

Selasa, 10 April 2018

PTK SD Kelas 5: PENERAPAN PENDEKATAN BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR LOMPAT TINGGI BAGI SISWA KELAS V SD

Berdasarkan dari tabel di atas tentang hasil  nilai tes praktik lompat tinggi kondisi awal kelas V SD Negeri Pengkol 01 Semester II tahun pelajaran 2012/2013 ada 20 siswa atau 66,67% dinyatakan belum tuntas, dan 10 siswa atau 33,33% dinyatakan  tuntas, nilai yang masih di bawah KKM 65,00 yaitu terdiri dari 20 siswa memperoleh nilai antara 55-64 dan siswa yang mendapat nilai di atas KKM terdiri 6 siswa memperoleh nilai antara 65-74, 4 siswa memperoleh nilai antara 75-84. Nilai rata-rata ulangan kondisi awal yaitu 64,67. 
Deskripsi Siklus I
Hasil pengamatan tentang aktivitas proses pembelajaran siswa dan aktivitas guru, aktivitas proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel di bawah , yaitu sebagai berikut.

Hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Nilai tes praktik lompat tinggi Siklus I

Berdasarkan dari tabel di atas tentang hasil nilai tes praktik lompat tinggi siklus I kelas V SD Negeri Pengkol 01 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013 ada 12 siswa atau  40,00% dinyatakan belum tuntas dan ada 18 siswa atau 60,00% dinyatakan tuntas. Nilai yang masih di bawah KKM 65,00 yaitu terdiri dari 12 siswa memperoleh nilai antara 55-64, dan yang mendapat nilai di atas KKM ada  8 siswa memperoleh nilai antara 65-74, dan 10 siswa memperoleh nilai antara 75-84. Nilai rata-rata hasil tes praktik lompat tinggi siklus I yaitu 68,33.
Deskripsi Tindakan Siklus II
Hasil pengamatan tentang proses pembelajaran siswa, proses pembelajaran siswa dapat dilihat dalam tabel, yaitu sebagai berikut. 
Rekap hasil pengamatan proses pembelajaran siklus II

Selasa, 27 Maret 2018

Contoh PTK SD kelas 5 mapel IPS

Penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS bagi siswa Kelas V SD Negeri Pajang I No. 93 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.

Identifikasi terhadap hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Pajang I No. 93 Kecamatan Laweyan Kota Surakarta Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012 dalam pembelajaran IPS pada kondisi awal diperoleh hasil yang kurang memuaskan. Hasil ulangan harian menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa diperoleh sebesar 60.87. Nilai rata-rata yang diperoleh ternyata < KKM yang ditetapkan sebesar 65.0.
Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas dengan nilai > 65.0, baru mencapai 45.65%. Sisanya sebesar 54.35% belum mencapai ketuntasan belajar dengan KKM sebesar 65.0.

Berangkat dari kondisi tersebut, maka guru melakukan suatu upaya perbaikan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. Perbaikan yang dilakukan guru adalah memperbaiki proses pembelajaran berupa peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran. Meningkatnya aktivitas siswa dalam pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan penguasaan konsep sehingga hasil belajar siswa ikut meningkat.

Download disini PTK SD kelas 5 mapel IPS

Contoh Tugas Akhir Perkuliahan TAP S1 PAUD

Rendahnya kemampuan anak dalam mengenal huruf ditunjukkan dengan hasil penilaian yang dilakukan guru pada tahap pra siklus tindakan. Berdasarkan hasil penilaian, dapat diketahui bahwa dari sebanyak 28 anak didik di Kelompok B, jumlah anak yang sudah memiliki kemampuan mengenal huruf dengan kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) baru mencapai 2 anak (7.14%). Adapun jumlah anak yang sudah memiliki kemampuan mengenal huruf dengan kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) baru mencapai 5 anak (17.86%).

Sisanya sebanyak 21 anak (75.00%) termasuk ke dalam kategori kemampuan Mulai Berkembang (MB) (35.71%), dan Belum Berkembang (BB) (39.29%). Rendahnya kemampuan mengenal huruf anak TK tentu saja akan menimbulkan dampak buruk bagi yang bersangkutan. Dampak tersebut akan sangat dirasakan memasuki bangku sekolah dasar kelak di kemudian hari.

Permasalahan dalam pembelajaran mengenal huruf pada anak Kelompok B di TK YPAB Permata Hati Kecamatan Jebres Kota Surakarta masih mengikuti cara-cara lama yang kurang efektif,  dan dengan media yang masih kurang.  Pembelajaran mengenal huruf di T TK YPAB Permata Hati Kecamatan Jebres Kota Surakarta seringkali hanya menggunakan majalah LKA (Lembar Kerja Anak). Proses pembelajaran mengenalkan huruf belum menggunakan  media yang lebih efektif untuk mengenalkan huruf. 

Contoh TAP S1 PAUD : METODE BERCERITA BERBANTUAN MEDIA BONEKA TANGAN

Berdasarkan hasil pengamatan pada hari ke lima, dapat diketahui bahwa Ketrampilan Berbicara anak mengalami peningkatan dibandingkan kondisi sebelumnya. Hal ini diindikasikan dengan meningkatnya jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) dan Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, yaitu dari sebanyak 6 anak (30.00%) pada tahap pra tindakan menjadi sebanyak 14 anak (70.00%) pada tindakan Siklus I.

Berdasarkan hasil pengamatan selama 5 kali pertemuan, dapat diketahui bahwa jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) mengalami peningkatan pada setiap kali pengamatan. Pengamatan hari ke-1 tindakan Siklus II menunjukkan bahwa jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) adalah sebanyak 10 anak (50.00%). Jumlah tersebut meningkat menjadi 12 anak  (60.00%) pada pengamatan hari ke-2. Jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) pada pengamatan hari ke-3 mengalami peningkatan menjadi 13 anak (65.00%).

Jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) pada pengamatan hari ke-4 mengalami peningkatan menjadi 14 anak (70.00%). Jumlah anak dengan Ketrampilan Berbicara kategori Berkembang Sangat Baik (BSB) pada pengamatan hari ke-5 mengalami peningkatan menjadi 16 anak (80.00%).


TAP S1 PAUD: PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN MEWARNAI PADA ANAK KELOMPOK B1 TAMAN KANAK-KANAK

Berdasarkan pelaksanaan observasi, anak tidak bermasalah terkait kegiatan motorik halus lain seperti kegiatan menempel, menjiplak, menggunting, meronce dan bermain balok. Selanjutnya, anak sangat antusias dalam kegiatan menempel, menjiplak, menggunting, meronce dan bermain balok yang diterapkan di kelompok B1 Taman Kanak-Kanak Aisyiah Kartopuran  Kecamatan Serengan Kota Surakarta. Hal tersebut dikarenakan kegiatan menempel, menjiplak, menggunting, meronce dan bermain balok tidak terlalu sering dilakukan dan pelaksanaannya menggunakan media yang bervariasi. Oleh karena itu, tidak menimbulkan kejenuhan dan perkembangan motorik halus anak dapat berkembang maksimal. Mengemas kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan motorik halus melalui media yang bervariasi sangat penting dilakukan. Selain itu, strategi yang digunakan ketika melaksanakan kegiatan tersebut juga perlu dipersiapkan semenarik mungkin untuk menarik antusiasme anak dan memberikan stimulasi yang maksimal.

Sesuai pengamatan yang sudah dilakukan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa di kelompok B1 Taman Kanak-Kanak Aisyiah Kartopuran  Kecamatan Serengan Kota Surakarta terdapat masalah ketika kegiatan pembelajaran. Masalah yang dimaksud terletak pada kemampuan motorik halus yang berkembang kurang maksimal karena stimulasi yang diberikan kepada anak kurang bervariasi sehingga kemampuan anak untuk bereksplorasi menggunakan jari-jemari serta pergelangan tangan juga kurang. Stimulasi motorik halus yang kurang bervariasi terletak pada penggunaan krayon dan spidol untuk kegiatan mewarnai yang terlalu sering dilakukan.

Anak kelompok B1 atau usia 5-6 tahun koordinasi gerakan motorik halus berkembang dengan pesat menurut tahap perkembangannya anak mampu mengkoordinasikan gerakan mata dengan gerakan tangan, lengan dan tubuh secara bersamaan, hal ini bisa dilihat ketika anak menggambar ataupun mewarnai. Jadi, kegiatan mewarnai sangat penting diberikan pada anak usia 5-6 tahun yang sedang duduk di TK kelompok B1. Sangat berbahaya apabila pada usia ini ketika diberikan kegiatan mewarnai anak mengalami kejenuhan dan kurang antusias.

Solusi yang diberikan oleh penulis untuk mengatasi masalah yang terdapat di Taman Kanak-Kanak Aisyiah Kartopuran  Kecamatan Serengan Kota Surakarta kelompok B1 adalah dengan memberikan variasi kegiatan mewarnai gambar menggunakan alat yang beragam dengan memperhatikan pengaturan intensitas penggunaan yang tidak terlalu sering. Alat yang digunakan untuk kegiatan mewarnai adalah pelepah pisang, pelepah daun pepaya dan cotton bud. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul: ”Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Mewarnai pada Anak Kelompok B1 Taman Kanak-Kanak Aisyiah Kartopuran  Kecamatan Serengan Kota Surakarta Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016”.

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan pembatasan masalah maka rumusan masalah yang akan diajukan adalah: ”Apakah kegiatan mewarnai dapat meningkatkan kemampuan motorik halus pada Anak Kelompok B1 Taman Kanak-Kanak Aisyiah Kartopuran  Kecamatan Serengan Kota Surakarta Semester II Tahun Pelajaran 2015/2016.

Senin, 26 Maret 2018

PTK SD: PEMANFAATAN ALAT PERAGA UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VI

Usai menentukan luas bangun datar, masing-masing siswa menuliskan nama bangun dan luas bangun LKS (1) hingga seluruh anggota kelompok mengisi semua. LKS (1) yang telah terisi ini merupakan data yang menjadi sumber penilaian, yaitu Nilai Menghitung luas segi banyak. Guru melihat proses penghitungan dengan memperhatikan aktivitas siswa, di antaranya, cara menghitung luas, cara menentukan rumus luas bangun datar, dan hasil yang didapatkan dari perhitungan tersebut.

Pada  tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar siswa belum mendapat nilai 75 atau lebih. Nilai tertinggi 94 dan terendah 44. Berikut ini nilai siswa yang ditampilkan dalam bentuk gambar diagram.

Terlihat pada gambar diagram di atas bahwa sebagian besar siswa belum memperoleh nilai yang melewati garis batas ketuntasan belajar. Bahkan, ada siswa yang mendapat nilai kurang dari 40. Namun demikian, nilai rata-rata kelas telah meningkat jika dibandingkan dengan kondisi Prasiklus. Ini tentunya tidak lepas dari pemenfaatan alat peraga dalam menghitung luas bangun datar.